Makassarcerdas.com – Malino 31 Desember 2017. Euforia perayaan pergantian tahun di berbagai daerah dirayakan dengan berbagai macam cara. Pesta ledakan kembang api dan suara terompet menjadi budaya dalam masyarakat modern. Tetapi ada juga sebagian orang melakukan dengan cara yang berbeda, seperti yang dilakukan oleh pemuda yang tergabung dalam Taman Seni Malino yang merespon perpindahan tahun dengan mengadakan Kemah Budaya yang bertajuk ” Assipakainga”. (Minggu 31 Des 2017)

Taman Seni Malino yang didirikan tahun 2017 lalu oleh pemuda kreatif Malino ternyata mampu menarik perhatian banyak kalangan baik dari pemuda masyaraka lokal, mahasiswa, seniman dan budayawan. Pemandangan yang langka dapat disaksiakan dalam kegiatan ini sebab seluruh peserta diwajibkan mengenakan “patonro” bagi laki-laki dan sarung bagi perempuan serta sajian pertunjukan seni dan budaya yang dipentaskan di hutan pinus, tentunya akan memberikan nuansa yang berbeda.

Ketua Umum Taman Seni Malino Khaerunnas mengungkapkan bahwa kegiatan kemah budaya yang bertemakan “Assipakainga” adalah salah satu cara untuk membenahi kondisi sosial yang semakin memburuk, “Ini adalah sebuah strategi untuk mengajak pemuda mengenali budayanya mulai dari yang terkecil sekalipun. Misalnya, banyak pemuda yang awalnya tidak mengetahui cara mengikat patonro dan Alhamdulillah dikegiatan ini akhirnya mereka akhirnya tau. Disisi lain kegiatan kemah budaya yang bertemakan “assipakainga” ini di harapkan mampu menyentuh masyarakat pemuda untuk lebih memperbaiki diri dengan memegang teguh nilai-nilai budaya ” ungkapnya.

Khaerunnas juga menambahkan bahwa kegiatan ini adalah upaya untuk menarik perhatian pemuda Malino untuk melakukan hal-hal yang sifatnya positif “Selain melestarikan budaya leluhur, kegiatan ini juga adalah salah satu strategi untuk menarik perhatian pemuda Malino untuk melakukan hal-hal yang sifatnya positif di pergantian tahun ” uangkap Khareunnas.

Kegiatan Kemah Budaya yang di selenggarakan di jl. Pedidikan kelurahan Malino ini di hadiri berbagai kalangan seniman baik dari akademik maupun praktisi kesenian dan kebudayaan. Ridwan Aco seorang penari Sulawesi Selatan juga turut berpartisipasi mengisi acara di Kemah Budaya. Sementara Muhajir, seorang penulis naskah, aktor, sutradara teater dan film juga turut berpartisipasi dalam diskusi pada kegiatan ini. Peserta kegiatan Kemah Budaya ini tidak hanya di hadiri oleh masyarakat Sulawesi Selatan tetapi juga dihadiri oleh pemerhati budaya di luar Sulawesi Selatan seperti peserta yang datang dari Manado, Ternate dan Buton turut mengapresiasi kegiatan ini.

Alif Anggara salah satu pendiri Taman Seni Malino menambahkan bahwa ini adalah kegiatan perdana Taman Seni Malino dan akan terus berkelanjutan. Kegiatan semacam ini sebaiknya mendapat dukungan lebih dari berbagai pihak lapisan masyarakat dan pemerintah. “Kegiatan ini sangat positif karena melibatkan pemuda dan budaya. Insya Allah kegiatan semacam ini akan terus berlanjut. Saya berharap kegiatan positif semacam ini mendapat respon dan dukungan dari lapisan masyarakat dan pemerintah karena kegiatan kepemudaan semacam ini adalah sebuah strategi untuk melahirkan generasi yang santun dan berbudaya ” pangkasnya.

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
Load More In Warganet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Strategi Dalam Menciptakan Industri Kreatif & Pariwisata Budaya, Ruang kreatif TAMAN SENI MALINO

MakassarCerdas.com – Malino sebagai daerah pariwisata di kabupaten Gowa memiliki kek…