Sigab, yang memiliki kepanjangan Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel baru saja memperingati hari berdirinya. Kini usianya memasuki angka ke-14. Usia yang masih muda sebagai sebuah organisasi pergerakan. Kata ‘Sasana’ menarik perhatian saya. Entah mengapa kata ini mereka pakai. Saya belum menanyakan kepada para pendirinya. Jika merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Sasana memiliki dua arti. Pertama, sasana adalah ‘pelajaran’, ‘petunjuk’ atau ‘nasihat’. Kedua, sasana merupakan ‘tempat berlatih’ atau ‘gelanggang’.
Nah, dalam lebih satu dekade ini, bagaimana para penggiat Sigab menggerakkan organisasi ini jika merujuk kepada makna ‘sasana’ tadi. Pelajaran-pelajaran apa saja yang sudah mereka hasilkan dan sejauh mana pelajaran ini dapat memenuhi mandat organisasi mereka, yakni menghapus praktik diskriminasi difabel dan mewujudkan Indonesia Inklusi. Lalu, jika sasana adalah gelanggang, maka ‘pelatihan’ apa saja yang sudah diberikan oleh para pengorganisir difabel di Sigab dan siapa saja yang berlatih dan menjadi pelatih selama di sana serta metode pelatihan seperti apa yang dikembangkan di Sigab?
*10 Tahun sebelum Sigab berdiri*
Setya Adi Purwanta, seorang aktivis difabel netra asal Yogyakarta melangkah memasuki kantor OXFAM Jakarta pada tahun 1993. Ia baru saja tiba dari Kuala Lumpur mengikuti seminar tentang Teknologi Komputer bagi Tunanetra. Lembaganya yang bernama Dria Manunggal di Yogyakarta (berdiri 1991) menjadi tempat difabel netra belajar mengoperasikan komputer. Ia memperoleh beberapa pengetahuan baru soal aksesibilitas bagi difabel netra sebagai pengguna komputer. Direktur Oxfam-Inggris saat itu adalah Dr. Mansour Fakih. Mereka berbincang panjang lebar, khususnya soal kondisi ‘penyandang cacat’ (istilah saat itu) di Yogyakarta dan daerah-daerah lain di Indonesia pada umumnya. Setelah pertemuan perdana itu, mereka memiliki banyak pertemuan-pertemuan lanjutan, khususnya ketika kantor Oxfam pindah ke Yogyakarta dan Mansour mendirikan INSIST pada 1996.
Persahabatan Mansour dan Setya Adi saat itu semakin erat. Saat itu, pemerintah sedang menyiapkan regulasi baru terkait pemenuhan hak-hak penyandang cacat. Mereka pun bekerjasama dengan sejumlah organisasi masyarakat sipil di Jogja untuk menyiapkan pokok-pokok pikiran dan tentu saja RUU terkait penyandang cacat. Mereka lalu melakukan road show ke beberapa kampus di Yogyakarta. Saat itu, konsep alternative dalam memahami realitas kecacatan sudah diperkenalkan oleh Mansour. Ia memperkenalkan istilah baru yang disebut Difabel, pengganti istilah penyandang cacat. Pendeknya, baik Mansour maupun Setya Adi Purwanta menentang konsep kecacatan yang berangkat dari konsepsi ‘kenormalan’ manusia berbasis kesempurnaan tubuh dan mental seseorang. Dengan konsepsi itu, terbangun aliansi sejumlah ornop yang bersepakat menyusun naskah akademik dan draft regulasi tandingan, RUU Difabel.

Comments

comments

Pages 1 2 3 4 5 6 7
Load More By MakassarCerdas
Load More In Warganet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…