Sudahkah Kita Belajar Sejarah Hari Ini?

Oleh : Syafri Arifuddin Masser

 

“What is past is prologue” – William Shakspeare

 

Ratusan tahun yang lalu sebelum aku lahir,

bumi hanya dipisah antara hijau dan biru tanpa polusi dan pabrik.

Namun setelah revolusi industri di Inggris semua menjadi arena politik.

 

Hitler, Lenin dan Stalin terlebih dahulu menginjakkan kakinya di bumi.

Sebagai pembunuh berdarah dingin dalam sejarah dan idola di abad millenial ini.

Obsesi menjadi tuhan memecahkan perang dunia kedua.

Toeri Einstein menghantam dataran Nagasaki dan Hiroshima.

Perang berakhir, sekutu  berguguran dan Indonesia merdeka.

Kekejaman masa lalu wafat dan hanya tokoh dalam aksara yang gagah telihat.

 

Holocaust saksi dari matinya manusia-manusia oleh penguasa,

sama dengan kasus enam lima sebagai alat propaganda untuk kudeta,

pengambilalihan kekuasan yang gagal oleh orang-orang kiri katanya.

Tinggal cerita dalam konspirasi sejarawan,

menentukan bagaimana masa lalu itu dituliskan.

 

Bangsa korban kekejaman Hitler berdiaspora ke tanah Palestina,

Oleh sebab perkara Aria, mereka dibuang dari tanah Eropa.

disambut dengan suka cita, lalu kemudian mengusir pemilik rumah.

Bangsa yang memberikan susu saat mereka miskin-papa

akhirnya memiliki nasib yang berbeda, terusir karena kasih sayang.

 

Lalu di zaman monarki, revolusi terjadi di Perancis

bangsawan berakhir di tiang pancung, Bastille gugur dalam kepongahannya.

Sedang di Jepang kekaisaran lengser, samurai menjadi Ronin,

katana terakhir berakhir dengan harakiri,

mati dengan cara paling terhormat dari sebuah restorasi Meiji.

 

Mahatma Gandi melawan stigma,

dengan falsafa tanpa kekerasan India akhirnya merdeka di selatan.

Agama membelah India menjadi dua dan utara milik Pakistan.

sedang di Korea perbedaan ideologi memecah korea

menjadi dua kutub yang berlawanan.

 

Indonesia pernah berjaya tatkala masih bernama nusantara

Candi Borobudur masuk keajaiban dunia serupa tembok China

serta luas wilayah sampai separuh wilayah Asia.

Namun Indonesia sekarang terlalu suka bercanda

yang akhir-akhir ini membuat kita senang tertawa.

 

Kalau kita hanya jalan di tempat saja,

barangkali kita membaca aksara ini

tanpa mau menadaburkan judulnya.

 

Makassar, 2016

#BeSmartBeSafe

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
Load More In Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…