Oleh : Syafri Arifuddin Masser

 

Kau bertanya apakah idemu masih digunakan. Barangkali.

Hanya sebagian yang masih percaya namun

sebagian itulah yang selalu jadi pemenang.

 

Pasti dalam pusara suaramu terdengar samar

dan memikirkan tentang ilmu yang kau tularkan.

 

Tenang saja, Kau masih tetap jadi nomor satu dalam bidang ini.

Semua yang keluar dari kepalamu adalah keabadian.

 

Apa kau masih ragu bahwa kau masih memiliki pengikut?.

Maka tengoklah ke negeri kami, Tuan.

 

Di negri kami—seperti caramu.

Penghianatan bukanlah hal yang memalukan

melainkan sebuah nilai amoral yang memberi kekuatan.

 

Jangan berpura-pura terkejut. lagipula kosakata malu

semakin sulit didapat di KBBI akhir-akhir ini.

Masih tak percaya, Tuan?

 

Di negri kami, banyak yang memilih berjalan tanpa agama,

agama selalu membatasi kuasa manusia—katanya. Kekuasaan

menggantikan peran iman menuju manusia seutuhnya.

Kali ini pasti kau tersenyum. Masikah ragu, Tuan?

 

Di negri kami, kata-kata dianggap senjata yang lebih berbahaya dari peluru.

Makan siang di istana dibuat agar kata-kata menjadi menu makan siang

yang siap lahap dan memasukkan kata kembali kekerongkongan.

Dan sekarang, sungguh kau sedang tertawa terbahak-bahak.

Sekarang percayakan, Tuan?

 

Aku tahu, Napoleon Bonaparte menjadikan idemu sebagai teman tidur,

dan Adolf Hitler, Bennito Mussolini, Vladimir Lenin, Joseph Stalin

menjadikan idemu sebagai juru selamat.

Namun, bagaimana kabar mereka dalam sejarah,

baik-baik saja kan, Tuan?

Tuan, kenapa diam?

Sulbar, 2017

 

#BeSmartBeSafe

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
Load More In Literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…