Summary
0 %
User Rating : 0 (0 votes)

Love in the Time of Cholera (2007) – berdurasi 139 menit – diproduseri oleh Scott Steindorff dan distribusikan melalui New Line, 20th Century Fox, Stone Village Pictures ( salah satu rumah produksi yang konsen pada alih wahana karya sastra ke film), yang semuanya berkedudukan di USA.[1] Sutradara dan penulis skenario film ini adalah Mike Newell dan Ronald Harwood. Newell adalah sutradara berkebangsaan Inggris. Dalam dunia penyutradaraan, ia telah dua kali menyabet penghargaan dari British Academy of Film and Television Arts (BAFTA) – tahun 1994 dan 2005 – ajang paling bergengsi bagi perfilman di Inggris.[2] Sedangkan Harwood adalah seorang pengarang, teaterawan, dan penulis skenario. Lewat The Dresser (1983) mendapat nominasi Oscar, memenangkan Academy Award for Best Adapted Screenplay (2003), dan mendapat nominasi untuk the Best Adapted Screenplay Oscar melalui film The Diving Bell and the Butterfly (2007).[3]

Selain nama-nama besar di atas, film ini juga tidak tanggung-tanggung menghadirkan aktor (aktris) terbaik dari negara berbeda, yakni:

  1. Javier Bardem (Florentino Ariza). Barden adalah aktor kelahiran Spanyol, 1 Maret 1969. Ia memulai karir filmnya dalam Las edades de Lulu (1990). Film, Jamon, Jamon (1992) mengantarnya menyapu beberapa penghargaan, seperti: CEC Award for Best Actor, Sant Jordi Award for Best Spanish Actor Nominated, Fotogramas de Plata Award for Best Movie Actor Nominated dan Goya Award for Best Actor dan banyak lagi penghargaan lainnya.[4]
  2. Giovanna Mezzogiorno (Fermina Daza). Giovanna lahir 9 November 1974. Ia adalah seorang pemain teater dan aktris film berdarah Italia. Giovanna telah memainkan beberapa film dan menyabet banyak penghargaan. Pada tahun 1997, main di film The Bide’s Journey sebagai Porzia Colonna, dan mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik pada Italian Golden Globe Award for New Star of the Year – Actress Flaiano Prize. Di Film Vincere (2009), ia berperan sebagai Ida Dalser. Di film ini ia meraih Nastro d’Argento for Best Actress, Italian Golden Globe Award for Best Actress, National Society of Film Critics Award for Best Actress, Nominated—David di Donatello for Best Actress, dan beberapa penghargaan lainnya.[5]
  3. Benjamin Brat (Dr. Juvenal Urbino). Bratt lahir 16 Desember 1963. Ia adalah aktor Amerika yang juga tidak sedikit telah memakan garam dalam dunia keaktoran. Ia telah berperan di beberapa film, antara lain: Demolition Man (1993), Blood In Blood Out (1993), Traffic (2000), Piñero (2001), Miss Congeniality (2000), Cloudy with a Chance of Meatballs (2009) and its sequel (2013), La Mission (2009), The Lesser Blessed (2012), Despicable Me 2 (2013), Doctor Strange (2016), and The Infiltrator (2016). Pada tahun 2010, menjadi pemenang dan berhak mendapatkan penghargaan dari Imagen Awards sebagai aktor terbaik lewat film La Mission (2009).[6]

Dan tentu saja kita tidak mungkin melewatkan nama Antonio Alves Pinto, salah satu penata music terbaik dari Brazil. Juga, suara merdu pelantun Waka Waka (This Time for Africa)”, Shakira Isabel Mebarak, mantan kekasih Sang Bek Barcelona, Gerard Pique – yang suaranya menggiring perasaan kita memasuki semesta film tersebut. Masih banyak nama lainnya: Executive producers: Danny Greenspun, Robin Greenspun, Andrew Molaski, Chris Law, Michael Nozik, Dylan Russell, Scott LaStaiti. Director of photography (Alfonso Beato), Production designer (Wolf Kroeger), Co-producer (Brantley M. Dunaway), Costume designer (Marit Allen), dan Editor (Mick Audsley).

Nama-nama di atas sengaja ditempatkan paling awal untuk mengingatkan bahwa produksi film tidaklah semata-mata mendaku pada sang sutradara. Film adalah kerja kolektif di mana masing-masing orang memiliki peran yang terkait satu sama lain.  Karena dikerjakan melalui kerja bersama serta latar pengalaman berbeda, dan – ini menjadi penting – tentu saja memiliki suatu intensi?! Baik sebagai penopang pelaris  (kepentingan pasar), profesionalisme dan kebutuhan akan keahlian menafsirkan novel sang penerima nobel (Garcia Marquez) hingga masuk ke skenario, ataukah memang ada desain politik atau misi ideologi tertentu di balik semuanya. Tetapi itu tidak akan dibahas dalam tulisan ini.

Sebagai penegasan, film ini adalah alih wahana novel ke sinema. Artinya ada banyak kemungkinan argumentasi bisa lahir melalui pola ini, utamanya tantangan tim produksi menangkap dan mentransformasi ide dan gaya tulis Marquez yang kita kenal sebagai realisme magis itu. Untuk keperluan tulisan ini saya akan memulainya dari gambaran singkat mengenai jejak filmis setelah menontonnya. Pertama-pertama akan diurai realitas filmisnya, sekejab masuk ke dalam novel dan historisnya, lalu mengurai beberapa komentar dan kritik atasnya.

 

Comments

comments

Pages 1 2 3 4
Load More By MakassarCerdas
Load More In Esai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…