Makassarcerdas.com – Mengapa siswa harus corat-coret-sobek pakaian sesaat setelah ujian/pengumuman kelulusan sekolah? Mengapa mereka harus ke jalanan, konvoi keliling kota, keliling desa, keliling dusun, hingga pelosok RT/RW, seperti merayakan kemenangan? Mengapa setiap kali selepas ujian/pengumuman kelulusan semacam itu kesalahan ditumpahkan semuanya kepada mereka? Mengapa selalu mengapa menjadi pertanyaan? Mengapa kita tidak bertanya, ada apa dengan sekolah? Mengapa siswa-siswa itu terasa sedang lepas dari sebuah sangkar? Jangan-jangan sekolah memang malapetaka bagi mereka? Jangan-jangan sekolah serupa bui, penjara, yang tidak memerdekan peserta didik sejak dini? Orasi mi seng! Santaimi cess duniaji ini bede…bukan kita sendiri yang cerdas di forum ini. Pembaca makassarcerdas.com su pasti cerdas! Assiiike…

Ekspresi siswa selepas ujian/pengumuman itu membuat kita serasa tidak mau jujur bahwa sekolah sedang tidak baik-baik saja. Sedang terjadi kekerasan sistemik, yang sadar atau tidak, sedang melanda dunia pendidikan tersebut. Kekerasan sistemik lebih dahsyat letusannya daripada kekerasan fisik. Model kekerasan ini seperti mata rantai yang melesat ke semua sendi dunia pendidikan.  Kata Zizek, ia seperti wabah endemic merasuki ruang sosial ekonomi kita, dan invisible to naked eye. Tetapi, Zizek dan penjelasannya tentang kekerasan tersebut sama sekali tidak akan dibahas lebih jauh di sini.

Ekspresi corat-coret-sobek pakaian pasca ujian/kelulusan tidak lain adalah bentuk protes. Peristiwa tersebut merupakan Happening Art, ekspresi kreatif yang lahir secara spontan. Dengan mendemonstrasikan berbagai macam ekspresi (dan tentu saja ekspresi tersebut sangat kuat menyita perhatian), peristiwa tersebut mencoba melabrak kemapanan dan ketidakpedulian yang selama ini mereka hadapi. Gerak spontan disertai macam-macam aktivitas simbolik tersebut tidak lain adalah kembalinya yang diregresi. Ia adalah tuntutan atas kekurangan yang selama ini tidak dapat diatasi atau dipenuhi oleh sekolah.

Artinya ungkapan tak sadar yang kemudian bertebaran lewat semprotan warna pada pakaian, sobekan pada celana, dan kata-kata tertulis, juga sekaligus jawaban atas represi sistem yang selama ini menanggulangi keseharian para remaja tersebut. Ia adalah bahasa lain atas ketidaktersedian sarana ekspresi atau kebaruan pengalaman selama menjalani jalur pendidikan semacam sekolah. Bisa dibayangkan runyamnya keseharian peserta didik menjalani lingkungan sekolah itu. Misalnya, mungkin sebagian kita  mengalaminya semasa menjadi pengguna seragam putih abu-abu itu, setiap hari, dari senin hingga sabtu adalah hari paling menyeramkan dalam hidup. Kira-kira dalam sepekan ada sekitar 24 jam lamanya berada dalam tekanan, dan sedikit berkurang kalau Insyaallah bertemu dengan guru kreatif dan motivatif (Alhamdullillah, kabarnya, akhir-akhir sudah banyak).

Selain itu, juga kehadiran penyemangat hidup sangat diperlukan saat bersekolah, khususnya di SMA. Taruhlah, kita sedang menjadi pemuja rahasia yang hingga pengumuman kelulusan tiba pun urung diungkapkan. Namun, mempertahankan kelemahan sebagai remaja pemendam rasa, rupanya diperlukan untuk terus menciptkan gairah agar selalu ke sekolah. Paling tidak di pagi hari kita telah merencanakan untuk dapat secara tiba-tiba berpapasang mata di koridor sekolah dan menyapanya dengan sekali tarikan napas, senter-senter bella (SSB)  pujaan hati kala istrahat di Kantin, atau tetiba memilih angkutan desa yang sama saat pulang sekolah. hi..hi… Jadi ini konteks di desa ya coy. Di dasari oleh kisah nyata “kasih tak sampai” kawan Anchi Tammappabombang, Akbar Poteng, Cakrawalabumi. Mereka ini menjelang dini hari telah menuju Tu Bolong nyari air karena kemarau melanda Sampeang dan sekitarnya.Sebuah kampung kecil di Bulukumba, Sul-Sel. Lalu, Berangkat dini harilah ia ke sekolah (karena khawatir dengan kepastian angkutan pedesaan) bersamaan keluarnya ibu-ibu dari Sampeang ke Tanete membawa Pisang, Sayuran, beras, dsb, sebagai barang jualan.

Konon juga pernah diriwayatkan oleh Anis Kurniawan berangkat sekolah dari Batu Karopa ke Tanete di awal tahun 2000-an dengan gelora yang sama. Meskipun kisah asmara Anis Kurniawan selalu tak sama dengan Irfan Palippui, Andhika Mappasomba, Abdul Haris Awie, Nursam NurdinMatto, pun Aminullah Arhat, ia selalu beruntung karena selalu menjadi idola di sekolah. Dan jangan salah loh, pun Holish Lauses, Kahar Muda Mappasomba, Adhy AK, konon juga menjadi penakluk di masanya…wkwkw. Mention: Wawan Rurung dan Roni Salasa Mappeware dengan segala kesaksian yang tak bisa disangsikan. Begitulah Ahmad Akbar menuliskan 99 puisi karena cinta, sebab matamu isyarat, lalu Achie Sultan tidak bisa tidak untuk tidak merealisasikannya…mau kemana ini tulisan? Hoff…tahan dulu! Ini catatan kaki yang sengaja ditaruh di tengah…kwkwkwk

 Kembali ke mengapa bukan pertanyaan ada apa yang terjadi di sekolah-sekolah yang eksponen siswa-siswa itu melakukan “pertunjukan pem(ke)bebasan” di ruang terbuka? Karena di sekolah sedang terjadi “penistaan” terhadap dunia pendidikan, terhadap ilmu pengetahuan. Itu dugaan singkatnya. Mari buka mata sejenak, lalu buka Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011/2012. Di sana menyebutkan jumlah guru Indonesia sebanyak 41.196. 467 dari 257,9 juta penduduk Indonesia. Coba bayangkan om, kalau saja jumlah sebanyak itu senang baca novel dan menuliskan puisi di malam hari, yakinlah…Pustaka Bergerak yang dibangun oleh Nirwan Arsuka beserta Ridwan Alimuddin, dan lainnya, tidak perlu sibuk menerjang ombak untuk melawan UNESCO.

***

Saya tersentak, terbangun dengan kata terakhir itu, UNESCO. Perlahan saya memperbaiki mata hatiku yang masih kalut. Saya kepikiran dengan segala kenangan tak beraturan di atas. Ini apa? Mengapa jadi campur sari? Mengapa saya tidak berani megatakannya waktu itu. Mungkinkah karena keputusan menjadi remaja pemendam rasa, kelemahan menyatakan cinta di masa-masa itu harus terus terbawa hingga saat ini. Mimpi ini menggerogotiku selalu. Ah, sambil mengingat-ngingat tatapannya kuputuskan untuk tidur kembali. Semoga saja ia datang lagi dengan kisah yang lebih jujur dan teratur…

 

Narayata

#BeSmartBeSafe

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…