MakassarCerdas.com – Demi menempatkan Belle (Emma Watson) “satu shaf di belakangmu”, sosok Gaston (Luke Evans) menyusun strategi, taktik dan aksi sedemikian rupa dan sedemikian runyam sepanjang film Beauty and The Beast berpindah-pindah plot. Banyak hal filosofis maupun politis yang diletakkan secara random dan massif dalam film ini, sehingga penonton bisa mendiskursuskan formasi-formasi sosial melalui banyak perspektif. Mengenai dua tokoh sentral (protagonis), Belle dengan kehipsterannya dan The Beast (Dan Stevens) dengan sikap seolah-olah altruisnya menarik untuk dibawa ke ruang-ruang yang lain. Juga tidak kalah menarik ketika beberapa plot dalam film ini diletakkan ke dalam genealogis (cara pandang) yang diperkenalkan Michel Foucault tentang the other. Tulisan ini mencoba membedah konsep the other yang dioperasikan oleh Gaston.

Michel Foucault mewariskan beragam tema diskursus yang begitu penting, salah satunya telaah historis atas kekuasaan yang melahirkan kepatuhan tubuh manusia, serta disiplin dan kontrol kekuasaan terhadap arus pengetahuan pada kehidupan manusia. Chris Barker (2004) memerah saripati diskursus disipliner Foucault pada: a. Ilmu yang menjadikan subjek sebagai objek penyelidikan; b. ‘Praktik pemisahan’ yang memisahkan orang gila dari orang waras, penjahat dari warga taat hukum dan kawan dari musuh; c. teknologi diri, di mana individu mengubah dirinya menjadi subjek. Dalam hal kegilaan, jauh sebelum praktik kedokteran, bangunan rumah sakit atau klinik diberikan kompetensi untuk memberi vonis kepada individu terhadap kondisi kejiwaan seseorang, kekuasaan memiliki otoritas penuh untuk menjatuhkan vonis-vonis seseorang disebut gila atau tidak.

Praktik diskursif dan praktik pemisahan inilah yang dilakukan oleh Gaston sepanjang pengelanaanya mengejar ‘konsesi’ asmara dari gadis cantik nan melek literasi bernama Belle (penggalannya bisa disaksikan di SINI). Ketertarikan Gaston kepada Belle selain karena rupanya, cara Belle menjalani kehidupannya di desa yang sangat sederhana tidak semekanis gadis sebayanya ataupun ibu-ibu yang berada satu desa dengannya. Layanan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang dipakai secara kolektif oleh masyarakat desa tempat Belle tinggal disulap menjadi taman akademos untuk anak usia pra sekolah di sekelilingnya. Keanehan perilaku Belle ini membuat kemapanan masyarakat desa goyah, beberapa warga menunjukkan resistensi, selain itu, membuat kekuasaan yang dimiliki Gaston semakin represif.

Semua bermula dari kehidupan rumah tangga yang tidak lengkap (tanpa ibu) dijalani oleh Belle bersama bapaknya Maurice (Kevin Kline) yang sehari-hari bekerja mereparasi atau membuat baru produk-produk seni untuk dijual. Bagi kehidupan The Beast yang istananya terisolasi, kelopak-kelopak mawar merah adalah kutukan, tetapi bagi Belle mawar merah menjadi semacam bukti laporan kepulangan seorang bapak (Maurice) ke rumahnya.

Pada satu perjalanan pulang menuju rumah, Maurice bersama kuda putihnya yang begitu setia hendak memetikkan mawar merah yang tumbuh liar di hutan untuk diberikan kepada Belle, menjadi masalah bagi Maurice kemudian karena mawar merah yang hendak dipetiknya berada dalam kawasan istana The Beast yang tidak boleh dipetik, Maurice kemudian terkurung dalam istana The Beast, sementara kuda putihnya dengan rasa panik pulang sendiri menuju desa tempat Belle tinggal. Rasa khawatir terhadap kondisi ayahnya yang disampaikan kuda putih kepada Belle membuat Belle segera bergegas bersama kuda putihnya menyusul Maurice ke istana The Beast.

Plot yang lain dengan situasi serba musikal bersama mayoritas warga desa (bisa dilihat di SINI), Lefou (Josh Gad) menasbihkan kekuasaan dan maskulinitas Gaston sebagai sebuah kelayakan yang bisa membuat konsistensi sikap dan perasaan Belle bisa sedikit mencair (bisa disaksikan di SINI). Situasi ini bisa dilihat sebagai kondisi yang tidak hanya memperlihatkan kekuasaan itu represif, tetapi juga produktif. Kekuasaan yang melahirkan subjek, yaitu Gaston yang maskulin dan (dianggap) bisa mencairkan hati Belle. Gaston membuat kekuasaan yang dimilikinya menjadi generatif, ekpresi politik Lefou juga mampu disusupkan untuk mempertegas identitasnya (bukan bagian dari dua ekspresi gender dominan). Chris Barker (2004:86) mengatakan bahwa Foucault memberi kita satu perangkat yang berguna dalam memahami bagaimana tatanan sosial dibentuk oleh diskursus kekuasaan yang menghasilkan subjek yang sesuai dengannya, membentuk dan mereproduksi tatanan tersebut.

Bagaimanakah kekuasaan Gaston dan agennya Lefou membentuk subjek Maurice sebagai the Other?. Salah satu studi penting Foucault tentang diskursus kegilaan adalah proses di mana diskursus kegilaan diperoleh melalui otoritas dan kebenaran pada momen historis tertentu. Jauh sebelum vonis ‘orang gila’ dimiliki oleh otoritas dunia medis (dokter dan gedung klinik/rumah sakit), pengetahuan tentang ‘orang gila’ diputuskan oleh kekuasaan, dengan melahirkan subjek ‘the other’ diantara subjek-subjek lainnya (yang juga dibentuk oleh kekuasaan).

Sepulang pertukaran tawanan istana The Beast yang dilakukan sepihak oleh Belle terhadap bapaknya Maurice, kedatangannya kembali ke desa mengharuskan Maurice meyakinkan Gaston dan agen-agen kuasanya tetang kondisi Belle di istana yang diyakini banyak orang sebagai sebuah angan-angan Maurice belaka. Gaston yang memiliki kepentingan terhadap Belle membuktikan kesaksian dari Maurice tentang kondisi Belle menyusul ke Istana the Beast untuk menyelamatkan Belle. Saat perjalanan menuju istana milik the Beast, Gaston yang dikelilingi oleh kehendak untuk berkuasa secara manifes ditunjukkan kepada Maurice ayah Belle (bisa dilihat di sini

KLIK DISINI

Wanita paruh baya (peri yang mengutuk the Beast) yang melakukan penyamaran sebagai warga desa berhasil melepaskan Maurice dan kembali ke desa mendatangi kerumunan yang mengitari Gaston yang sedang berusaha melanggengkan kuasanya atas warga desa dan Belle tentunya. Dalam plot inilah subjek Maurice diciptakan sebagai subjek the other oleh kekuasaan Gaston serta agen-agennya. Kebenaran dan moralitas yang disuarakan Maurice ditranslasi oleh kekuasaan Gaston sebagai gejala kegilaan yang akan mengganggu kemapanan dan agenda-agenda kekuasaan. Maurice kemudian dipisahkan (baca:dipenjarakan) sebagaimana kondisi orang gila di abad XIV dan abad XV yang dideskripsikan secara historis oleh Foucault. Sekiranya pilkada DKI itu produktif menciptakan histeria dan kegilaan yang berkepanjangan, tidak ada larangan kepada Anda untuk mencintai ataupun juga membenci (karangan) bunga. Gila boleh Fanatik Jangan.

 

 Ade Saktiawan A

E-Mail : adesaktiawan4@gmail.com

#BeSmartBeSafe

 

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
Load More In Esai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…