Makassarcerdas.com – Apa yang kita saksikan ketika penanggalan jatuh pada 1 Mei? Kita melihat “mimpi” berbaris di jalan-jalan; ada gairah bergelora, ada kebangkitan, ada ekspresi, ada keinginan; ada kemauan merasakan perubahan dan keadilan sosial. Rasa-rasanya ada kehendak memulai kehidupan di tengah keperihan keseharian para pekerja; buruh, petani, miskin kota, nelayan, dan seterusnya. Di sisi lain kita juga tidak dapat menyangkal ada ketakutan terdramatisir di mata para penakluk, khususnya para taipan, kelompok-kelompok yang mengakumulasi kekayaan; yang rakus terhadap hak milik dan dengan berbagai cara menguasai segalanya tanpa batas…Hari ini kawan-kawan, kita kembali ke … Huff, kok orasi?  Bukan ini intinya!

Kita tidak tahu lagi sampai di mana peran negara terhadap warga negara. Andai tak ada pemilu, mungkin kita lupa, apa itu sesungguhnya negara? Sebab mereka hanya datang saat butuh suara, setelah itu hilang entah kemana. Atau kita akan mengetahuinya ada kalau telah muncul di Tv karena dikabarkan telah mencuri uang negara, korupsi.

Siapa yang korupsi?  Bukan mau memberitakan ini, bukan juga ini beritanya,  bahwa syarat sah warga negara menjadi top maling di Indonesia adalah dengan bercita-cita menjadi pejabat. Ikut pemilu, menebar senyuman di tepi jalan, membuat akun-akun di medsos untuk meraup simpati, lalu bercita-cita menjadi orang yang paling mampu mensejahterakan masyarakat; atau menebar gambar di pelosok desa untuk mengabarkan dirinyalah paling bersih;dialah satu-satunya orang paling soleh dan paling tepat menjadi piliihan. Bukan ini beritanya…

Nah ini dia, May Day!  Bagi kebanyakan orang di belahan bumi aksi ini identik dengan “pita’ terikat di lengan kiri (kalau tidak salah); berwarna cerah, tentu saja, merah paling terang. Di hari itu ada keresahan hati para pekerja akan keberlangsungan hidupnya; tentang perut yang tak pernah terisi cukup di tengah para pengakumulasi alat produksi; yang doyan hamburkan kekayaan seenak dewe. Ya, begitu kira-kira gambaran sekilas di hari itu…Tunggu dulu ada lain lagi, kita akan menyaksikan juga aparat keamanan laiknya semut di mana-mana. Ada yang berseragam dan bersenjata lengkap, juga kebanyakan menyusup di kerumunan massa. Tetapi bukan itu juga soalnya, kalau gossip yang beredar, kadang-kadang mereka sengaja atau tidak, memancing keganasan massa, dan menuding aksi tersebut meresahkan warga sekitar; sehingga (terkadang) terjadilah kaos diantara orang-orang yang selama ini sulit mencukupi kebutuhan sehari-hari oleh ulah segelintir kaya yang menjelaskan batas kebutuhan hidupnya saja teramat sulit. Ambe muami ba…lalaa…lala. Hooo…oooh…3x ..oooh..PSM menang 1-0 terhadap Persija malam tadi. Lagi, bukan ini problem utamanya, bukan berita PSM yang belakangan ini menyenangkan telinga karena berada di puncak klasemen. Prajurit keamanan di lapangan itu juga pekerja yang belum tentu telah merasakan keadilan secara baik. Harusnya mereka juga ikut aksi di May Day…  ha…ha…kok larinya ke situ. Bukan itu maksudnya!

Maksudnya adalah bahwa cikal bakal May Day itu ditandai oleh protes melalui pemogokan pekerja di AS. Kejadian itu terjadi pada tahun 1806. Saat itu para pekerja di sebuah perusahaan sepatu mogok kerja. Mereka menuntut keadilan waktu kerja, karena benar-benar keringatnya diperas habis-habisan; mereka harus bekerja selama 19-20 jam/hari. Artinya, mereka merasakan kehidupan dalam sehari hanya 4 jam, itu pun kalau mereka tidak menggunakan istrahat atau tidur…parakang, eh salah, parah kan?!

Selanjutnya, gerakan tersebut terus bertumbuh, dan mengikutkan ratusan ribu pekerja terlibat pemogokan. Hingga tahun 1872, seorang organisatoris buruh bernama McGuire berhasil menghimpun kekuatan para pekerja yang ledakannya besar serta mengakibatkan kerusuhan di Chicago, bagian barat AS. Di balik gelombang besar itulah mengubah dunia, khususnya dunia para pekerja itu, serta mempengaruhi belahan dunia lainnya. Chicago efek menimbulkan gerakan yang lebih massif di belahan dunia lain. Tanggal 1 Mei 1872, di Kanada, terjadi aksi mogok sebagaimana protes pemberlakuan waktu kerja di AS. Mereka menuntut pemberlakuan waktu kerja menjadi 8 jam.

Mulai terang, bukan? Kapan May Day? Tanggal 1 setiap tahun. Mudah toh, ingatnya? Yes, indeed! Kamu ikut aksi nda? Tidak! Kenapa? Begini ceritanya, aaauuuuuuuuu…lalu berceritalah Resa Yudianto kepadaku.

Ini perkara rumit kawan! Kamu tahu kan, kenapa di bangsa yang banyak pejabatnya korupsi ini melarang kita mengucapkan selamat hari natal (meskipun mengucapkan gong xi fa chai atau kiong hi fat chai (selamat dan semoga kaya) dan perayaan agama lainnya di Indonesia tidak ribut-ribut amat). Ceritanya serupa dengan distribusi sejarah yang terimpor sana sini. Jadi meskipun itikadnya adalah kebaikan, silaturahmi, kalau itu aromanya tafir sebagaimana tatanan sejarahnya, kamu akan sulit melewati hari-harimu. Hari-hari penuh warna, warna kelabu sekali salto bisa berubah putih dengan segala kebersihan, wangi sepanjang hari. Makanya pilih deterjen pewangi bersama hari-harimu di negeri nan basah kuyup masalah ini. Hoooffff…reeemmm….kembali ke garis om, ngomong apa toh le?

Awalnya, May Day adalah hari libur pagan kuno. Perayaannya dimulai pada  musim panas. Dalam tradisi Gaelik, ini dikenal sebagai Beltaine (“Beltane”). Seiring berjalannya waktu, kelompok yang berbeda menyesuaikan perayaan dengan budaya atau kepercayaan khusus mereka. Orang Eropa dan Amerika sering merayakannya dengan cara yang lebih sekuler dengan hiburan seperti tarian Maypole yang bermahkotakan bunga (itu tentu saja memberi sedikit konteks budaya kepada semua wanita muda yang sedang berbaris di festival musik musim panas sepanjang tahun ini dengan bunga aster raksasa di kepala mereka.) Lihat di sini, selanjutnya klik sendiri bro-bri banyak di Yusuf. NB: Pada bulan Mei, Belahan Bumi Selatan bersiap-siap untuk musim dingin, jadi May Day sebagai perayaan musiman sebagian besar adalah hal Belahan Bumi Utara…

Nah, ada yang tidak beres ni, bisa-bisa MUI, FPI, ditambah walikota Makassar, Danny Pamanto, melarang muslim ikut aksi May Day, karena bukan tradisi kita. Lihat di sini lagi deh, hi…hi..

 May Day juga merupakan hari libur buruh di banyak wilayah di dunia, meskipun sejarahnya cukup sembrautan sana-sini – dan tuntutan akan ketidakadilan yang tidak pernah final. May Day telah berbagi hari dan tanggal dengan Hari Buruh Internasional sejak tahun 1880an. Tapi mengapa May Day selalu dibayangi kewaspadaan akan terjadinya“kericuhaan”? Apakah karena Chicago efek takut terulang? Atau karena memang kelas pekerja dtakdirkan menciptakan perubahan? Pernahkah anda mendengar sandi “Mayday Mayday” diucapkan oleh tentara AS dalam setting film perang Vietnam atau kisah “kepahalwanannya” menyelamatkan Timur-Tengah? “Mayday Mayday, tentara AS sedang digempur…begitu bunyinya…Apakah ini terkait dengan “Mayday Mayday!” sebagai panggilan marabahaya?… Juga sama sekali tidak terkait dengan itu. “Mayday” sebagai panggilan darurat berasal dari bahasa Prancis M’aidez (Bantu Saya).  Meskipun begitu, tak  ada salahnya belajar bahasa Prancis untuk mempelajari sejarah liburan, atau cobalah piknik ke Paris. Mungkin hari-harimu sedikit akan mengharu biru…Hi..Hi..

 

 

Selamat Hari Perlawanan, Panjang Umur Perjuangan…!  

 

Narayata

#BeSmartBeSafe

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…