Makassarcerdas.com – Ketika Facebook (FB) bertanya, ” What’s on your mind?”, kamu akan jawab atau akan membagikan berita apa? Begitulah setiap hari kita diintrogasi oleh mesin media sosial.

Hari-hari terus berulang. Selain Denny Siregar berhari-hari minum kopi, hari-harimu akan dibayang-bayangi oleh ibukota. Jakarta, tentulah salah tiga bagian buruk menemani harimu. Di sana itu setiap hari ributnya minta ampun. Seolah-olah hanya padanyalah punya masalah, dan kita tidak punya masalah sama sekali.

Bukan mau dipedulikan dengan masalah kita, misalnya siang hari baru bangun tidur dan di dapur tidak ada sesuatu lagi untuk diseduh. Gula habis, kopi pun demikian. Minta ke Denny Siregar atau kepada Haji Lulung bukanlah perkara mudah. Lagian, Bang Haji baru saja mengentaskan nasarnya – memotong tiga ekor sapi sebagai ganti kupingnya yang terus tertagih. Juga tidaklah mungkin kepada Ruhut Sitompel di tengah duka laranya; juga tidak pada ibu dengan janji memotong puting susunya. Ikhwal semua itu selalu menyeret hari-hari ini secara diam-diam, bahkan terasa lebih penting dari masalah petani di pegunungan Kendeng; sahidnya bu Fatmi di medan perjuangan; Ganjar Paranowo tutup mata, telinga dan hati sekeras semen.

Meski begitu hari-hari penting bakalan tak terlupakan, peringatan hari bumi serta buminya salah sambung melulu; hanya foto dan ucapan perayaan saja terus berselimut, tiap tahun hutan diselimuti api dan pembukaan lahan sawit baru, dsb; mesin eksplotasi lingkungan berjalan bersama perayaan; atau rasa peduli baca buku di hari buku walau sering lupa baca buku, bahkan senang bakar buku…hi..hi.

Serius! Saya tidak ingin bicara soal eksploitasi hutan, pembakaran buku, bahkan pilkada Jakarta. Bukan juga soal teman yang merasa batangan anroid itu segala-galanya. Lupa makan karena jari jempolnya lelah sudah nyekrool, naik-turun, hingga khatam beberapa jus (bab) status FB (dan kawanannya) dilahapnya. Dibaca berulang-ulang, diulang lagi, lalu memutuskan menulis di wall-nya, “Selamat hari buku sedunia; membaca adalah jendela dunia.”

Begitulah Reza Yudianto membuat lubang di wall FB-nya, yang ia namai jendela dunia. Di depan jendela, ditemani Adi Bro, mereka menatap masa depan. Malam harinya mereka pun gentayangan sana sini, dan memulai memikirkan bisnis informasi, yang bagi konsultan pribadinya Irfan Palippui, muatannya harus mencerdaskan pembaca. Ya, Makassarcerdas.com lahir di tengah malam disertai kecamuk petir di MU.

Tahu gak, MU? Tempat Sang Owner bersama Adhe ( si cowok cakep) menghabiskan masa kecilnya bermain di tengah sawah. Dulu MU gak ada ruko,beton-beton belum kokoh, sebagaimana masa kini. Mungkin karena saking padatnya itulah, pemukiman itu dengan bangga ia nama MU, akronim “Minasa Upa” cuy ..wkwkwk. Di sanalah segala kompleksitas selera modern ditanggungnya. Begitulah Sang Owner melewati hari-harinya, meski sering bercerita tentang sawah di masa lalu, tetapi perkenalan awal saya dengannya terkesan tidak mengenal beras, sebab rasa lapar di malam hari membuatnya doyan rebusan indomie. Walah, kok ceritanya lari kesitu! Padahal saya mau mengungkap keributan di grup dan berita yang di-share ke wall-ku hari ini. Pokoknya, ini perihal kekepoan massal melanda banyak orang. Media penyalur berita itu, saking keponya, manusia menikah karena keputusan disadarinya pun diributkan.

Ingat, Haji Nasir (63), menikahi Milawati (18), meskipun dikabarkan berakhir tragis tetapi sejagat raya pernah meributkannya. Desas desus para kepoer itu karena Puang Aji punya banyak uang. Kecumburuan massif semacam ini bakalan sering ditemukan di tengah masyarakat yang laki-lakinya sering prustrasi gara-gara uang panai.

Haji Nasir (63), menikahi Milawati (18)

Kasus lain, pernikahan Oma Martha Bathe (80) bersama kekasihnya Sofian Lohonde (28). Pernikahan dengan usia berjarak setengah abad ini sama sekali berbeda dengan konteks pernikahan di tanah Bugis-Makassar, mereka memang saling mencintai, menyayangi satu sama lain. Hanya saja bukan pengaruh uang panai milyaran serta hadiah rumah dan mobil penyebabnya.

Oma Martha Bathe (80) bersama kekasihnya Sofian Lohonde (28)

Hari ini para lelaki yang prustrasi dengan uang panai kembali ribut dengan ulah Tajuddin Kammisi (70) melamar Andi Fitri (25) dengan uang panai, setelah dibulatkan, sekitar 1,4 Milyar Rupiah. Rupanya tidak ada ajaran dapat menahan kebiasaan menakutkan bagi kebanyakan laki-laki di tanah Bugis Makassar. Ini ancaman, meski film Uang Panai telah tayang dan larisnya minta ampun, serta berbagai penelitian ilmiah telah dilakukan, termasuk penelitian Arham Rahman, masih saja peristiwa semacam ini terus menghebohkan. Saya yakin Wahabi, HTI, sekalipun bakal tak mampu menangkisnya. Even if, Zakir Naik, Right?  Anda akan dijahanamkannya sebab itu tidak ada dalam jejak kitab suci, tidak ada penjelasan sahih untuknya. Jadi kalau ada seorang kakek-kakek, nenek-nenek di usia senjanya memilih menikahi seorang lebih muda dengannya, itu bukanlah kekhilafan. Kecuali, merencanakan Khilafah di negeri yang sudah final rumusan kebangsaannya adalah kekhilafan fatal.

Penulis : Narayata

BeSmart BeSafe

 

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
Load More In Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…