Makassarcerdas.com – Pernahkah kita berpikir bahwa terkadang semakin kita membaca maka kita semakin bingung? Pernahkah kita berpikir untuk apa kita belajar, untuk apa kita membaca, untuk apa kita menulis, untuk apa kita diskusi dan sebagainya ? Apakah kita diskusi, membaca dan menulis hanya untuk kebutuhan eksistensi belaka atau barangkali tuntutan budaya populer saja ? Apakah hanya untuk melanggengkan kehidupan kita dalam kepala seseorang ? Saya pikir lebih dari itu.

Kekinian, jargon sederhana dalam budaya populer yang kekuatannya cukup kuat untuk mengubah pola pikir dan perilaku. Kekinian, sebuah konsepsi yang menggiring seseorang untuk menggunakan kosakata atau istilah marak yang sifatnya sangat sementara, mengadopsi budaya luar secara gamblang lalu meminggirkan budaya lokal dan pada saat negara lain mencaplok nilai budaya tersebut barulah berkoar-koar untuk hadir sebagai sosok patriotis.

Budaya populer dan eksistensi semu di dunia maya seolah memenjarakan jati diri dan menggiring kita ke arah jurang kemunafikan dan menorehkan pena pada kitab lupa di masing-masing kepala. Budaya populer di mana totalitas ide dan perilaku mengikuti arus utama yang diamini oleh masyarakat mayoritas. Kecenderungan kita menjadi penumpang dan ikut-ikutan demi mendapatkan eksistensi dalam ruang kekinian. Seolah kita menyerahkan hidup pada media sosial, eksistensi kita dalam dunia tatap muka (offline) tidak lebih penting dari eksistensi di dunia maya (online). Dunia maya betul mampu memberi jalan informasi untuk sampai pada masing-masing kita namun emosi tidak akan pernah sampai karena secanggih apapun teknologi itu tidak akan mampu menandingi kala mata saling betatap. Ada kecenderungan yang terjadi di sekitar kita, seolah-olah kita dianggap mati jika beberapa hari tidak berkicau atau sekadar mengunggah gambar di dunia maya. Dari ketakutan itu kita rela untuk melakukan hal-hal yang berada diluar batas diri.

Dengan adanya beberapa jejaring di media sosial yang menawarkan berbagai fitur seperti kolom untuk tulisan, pengunggahan gambar/video dan lain sebagainya itu seolah menghapus kelas sosial namun menimbulkan ambiguitas sosial. Indikasi masalahnya adalah budaya populer yang notabene adalah budaya barat, itu tendensinya ke arah kapital sedangkan keadaan sosial ekonomi masyarakat mayoritas belum sampai pada tahap tersebut. Dengan merogoh kocek yang tidak begitu banyak kita sudah dapat memiliki smartphone dan menggenggam dunia. Budaya kapital yang menggerogoti media sosial itu lalu menjadi rahim untuk lahirnya penyakit sosial. Penyakit sosial yang muncul salah satunya adalah berekspansinya kelas menengah kebawah menuju kelas atas yang cenderung dipaksakan seperti pribahasa belum cukup bulu namun sudah ingin terbang melambung tinggi. Sangat sering kita jumpai beberapa kecenderungan warga media sosial bahkan kita sendiri pun kadang tidak bisa menghindari, misal hanya memposting tempat tertentu yang dianggap berkelas atau mewah, berpose di depan cermin yang menonjolkan gadget, mengunggah makanan atau minuman yang kesannya “wah”. Dalam hal itu barangkali kita cenderung melakukan pembohongan terhadap diri kita dan barangkali juga mengagungkan kemunafikan. Saya tidak cukup sinis dengan kondisi seperti itu karena masing-masing kita punya hak dalam berekspresi selama itu tidak merugikan orang lain. Termasuk tulisan ini adalah salah satu contoh kebebasan berekspresi dan semoga saja tidak ada yang dirugikan. Namun jika ada yang dirugikan, saya siap menyuguhkan kopi untuk mengantar diskusi kita.

Ada perubahan mindset yang sangat dipengaruhi oleh budaya populer dan memang kasur empuknya ada pada media sosial. Orang-orang seakan menjadi robot berdaging yang di mana Budaya populer seolah menjadi remot untuk mengontrol dan menggiring menuju arus utama yang menjadi tren. Di jaman post-modernisme ini, memori ingatan seseorang sangat mudah dipindahkan atau bahkan dihilangkan hanya dengan penggiringan opini melalui komunikasi massa di media sosial. Milan Kundera dalam novelnya “kitab Lupa dan Gelak Tawa” ia menuliskan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa, jangan lupa untuk tidak lupa. Namun parahnya lagi kadang orang yang ikut berpartisipasi meramaikan suatu topik justru tidak paham mengenai substansi dari topik itu sendiri. Barangkali ia lupa untuk paham.

Pada awal tahun 2016 lalu masyarakat dibuat heboh oleh 2 kasus besar (dibesar-besarkan) yaitu Bom Sarinah Thamrin dan Penggusuran Kalijodo di Jakarta. Kasus pengeboman pos polisi di Sarinah Thamrin Jakarta itu melejitkan sosok Krishna Murti, lalu muncullah tagar di media sosial yang menjadi viral dengan hastag #polisiganteng dan #kamitidaktakut. Barangkali tagar #kamitidaktakut yang merepresentasikan perlawanan dan keberanian masih punya sedikit korelasi dengan aksi terorisme. Namun tagar #polisiganteng ini sungguh diluar konteks dan substansi dari kasus terorisme. Entahlah apa maksud dan tujuan dari si pembuat tagar menganalisa semua merk barang yang digunakan oleh si Polisi itu bahkan membandingkan dengan merk barang yang digunakan oleh si teroris. Dari hasil analisanya kemudian melahirkan kesimpulan bahwa polisi dan teroris itu sama-sama Fashionable. Luar biasa bukan, dari 2 hal paradoks yang dikomparasikan ditariklah persamaan yang sangat Pop. Apakah ini untuk membentuk paradigma masyarakat bahwa terorisme itu keren, lucu dan tidak menakutkan ? entahlah, terserah bagaimana sudut pandang kawan-kawan. Tak lama berselang, pemberitaan di televisi dan dunia maya dipenuhi dengan Kasus Penggusuran di kawasan Kalijodo yang terlalu di-lebaykan. Media yang terlalu mendramatisir premanisme dan muncul lagi Sosok Krisna Murthi dengan geger kalijodo-nya dan Abdul Azis dengan capnya sebagai preman yang ditokohkan. Abdul Aziz selalu disebut dan ditulis di media dengan nama “Daeng” Aziz yang menonjolkan identitas bahwa Aziz adalah orang Bugis Makassar. Jelas beritanya akan lebih seksi apabila menggunakan kata “Daeng” karena identitas suku akan membawa pengaruh terhadap viralnya pemberitaan. Ada yang bangga berkicau bahwa Makassar penguasa kalijodo, ada yang malu dan ada yang mencibir. Lagi-lagi masyarakat tergiring lalu terjebak dalam arus utama yang dibuat oleh media. Dengan kondisi masyarakat yang latah atau ikut-ikutan, itu seringkali dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk memainkan isu demi kepentingannya. Kemudian di bulan September 2016, barangkali masih hangat di pikiran kita tentang Diplomat cantik Indonesia yaitu Nara Masista Rakhmatia. Ia mendadak tenar karena aksinya melawan enam pemimpin negara Kepulauan Pasifik yang ikut campur urusan dalam negeri Indonesia soal Papua Barat. Lagi-lagi penggiringannya keluar dari substansi permasalahan. Apakah kita membahas tentang dinamika yang terjadi di Papua, Pelanggaran HAM, eksploitasi dan lain sebagainya ? Sekelas mahasiswa pun saya agak pesimis bahwa itu benar dilakukan. Ini yang terbaru, tentang Bom Panci di Bandung yang kejadiannya akhir bulan Februari 2017. Kasus itu sukses membuat Ismi Aisyah sekretaris pribadi Kapolda Jabar menjadi viral. Perempuan asal Makassar tersebut disoroti oleh publik karena di tengah cekaman terror ia nampak tampil sigap, ya kalau ingin gamblang tentu karena dia cantik bukan sekadar sigapnya. Saya pun merasa munafik jika tidak mengakui kecantikannya.

Maksudnya apa ? Dari beberapa contoh kasus tersebut memang nampaknya kita seringkali terhegemoni oleh hal yang sifatnya non-substansial. Oke, tidak ada salahnya memberikan apresiasi kepada seseorang terlebih jika memang ia telah melakukan hal yang dianggap sebagai sebuah prestasi karena prestasi akan selalu berimplikasi pada prestisi. Namun kita tidak mesti terhanyut oleh arus utama yang diciptakan oleh media yang kemudian bertransformasi menjadi komunikasi massa. Kita tidak mesti menjadi penumpang dari giringan arus utama dan cenderung mencari posisi aman dan nyaman. Kita tidak mesti meninggalkan hal substansial demi identitas kita dalam kelompok tetap terjaga dan kita juga tidak mesti selalu mengikuti suara mayoritas dalam hal menilai suatu kebenaran. Jangan takut menjadi minoritas, soe hok gie saja rela diasingkan demi tidak bersandar pada kemunafikan, Tan Malaka yang rela mengesampingkan kemerdekaan individunya demi kemerdekaan umum dan Marthin Luther King pun pernah berkata hampir selalu dedikasi kaum minoritas yang kreatif telah membuat dunia menjadi lebih baik, serta tokoh perubahan lainnya yang tidak sempat dituliskan namanya satu per satu. Terima kasih, salam tradisi dan salam literasi.
Adi Kurniawan
(Fakultas UKM Seni UMI)
BeSmartBeSafe

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
Load More In Esai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…