Makassarcerdas.com – Seminggu yang lalu, Pak Rustam berada di luar kota untuk membawakan makalah tentang “Menemukan Manusia dalam Puisi” yang dilaksanakan oleh sebuah sekolah sastra di Bulukumba. Di kota itu ia mendapatkan kabar mengenai kericuhan kampus alias tawuran mahasiswa yang kembali terjadi di Universitas Negeri Malulah (UNM). Kejadian itu memang sudah sangat akrab ia temui. Semenjak mengajar di kampus itu, sudah berulang kali ricuh. Malah, dua tahun yang lalu sempat menelan nyawa, dan – dua mahasiswa tewas dibacok badik, tepat di jantung – masih saja terus terulang. Parah. Ah, lagi-lagi pencetak guru itu membuat tontonan buruk.

Sebagai pengajar di tempat itu, otomatis, Pak Rustam, ikut tercederai. Ia pasti dianggap gagal menciptakan kelas-kelas ilmiah, akademik, manusia terdidik dan membuat orang mencintai ilmu pengetahuan.

Kabar tentang perilaku mahasiswa UNM itu berkembang dalam forum seminar. Saat sesi diskusi telah dibuka oleh moderator, seorang lelaki kekar, berambut panjang, mengacungkan tangan. Sepertinya, lelaki itu yang hendak memulai komentar tentang tema hari ini. “Saya baca di koran, headline, pagi ini: Mahasiswa Universitas Malulah (UNM), Tawuran Lagi…Itu kampus bapak? Sanggar Seni dibakar. Lalu, hari ini bapak bicara mengenai “Menemukan Manusia dalam Puisi”. Bagaimana mungkin manusia yang mempelajari seni, pernah membuat atau membaca karya sastra suka sama perkelahian?”Pak Rustam diam. Ia belum diberi kesempatan memberi respon.

Lalu, seorang perempuan yang duduk paling depan, sambil memegang makalah, juga pulpen, mengacungkan tangan. Perempuan itu juga tampak tergesa-gesa. Ia ingin segera memberi unek-unek tentang materi hari ini. Ia pun diberi kesempatan kedua untuk bicara. “Begini Pak…” pembicaraannya terarah ke Pak Rustam lagi.“Semua manusia di Indonesia akan berpikir sama. Merasa aneh melihat tawuran. Jangan-jangan di kampus yang sering tawuran itu, para dosennya sedang tidak serius mengajarkan mahasiswanya cinta, pun ilmu pengetahuan. Ini sangat kontradiktif dengan cara orang tua kita mendidik anak-anaknya di rumah. Orang tua yang mendidik saya di rumah, yang tidak pernah sama sekali duduk di bangku sekolah saja, punya pengetahuan tentang manusia, mengerti cinta. Kenapa? Karena orang tuanya, ibu-bapaknya, mengajarkannya cinta, memahamkannya yang mana perilaku baik dan buruk, di rumah secara serius.” Komentar itu menusuk.

Lanjutnya lagi. “Apakah di kampus bapak tidak ada dosen yang berhati manusia, sehingga mahasiswa itu tidak berperilaku sebagaimana manusia yang mengerti manusia lainnya?”Forum menjadi hening. Pak Rustam terancam. Semua senjata mengarah padanya. Moderator segera mengambil alih forum. “Pembicaraan kita hari ini telah keluar dari tema. Keluar konteks. Coba kita kembali fokus ke soal puisi dan manusia.” Tegasnya. Seorang dari samping tiba-tiba interupsi. “Moderator! Malah komentar dari kedua orang tadi, sangat terkait dengan tema di atas, kenapa saya mengatakan itu?” sambungnya lagi, “karena, kita tahu bahwa adik-adik mahasiswa di  UNM yang sering terlibat dalam perkara tadi adalah mereka yang sedang mempelajari cara memanusiakan manusia, menjadi manusia. Apakah ia seorang mahasiswa Fakultas Tetangga (FT), Fakultas Sebelah (FS), pun Fakultas Atas (FA). Tidakkah ketiganya memang sedang membahas seni-manusia dan manusia-seni.” Pak Rustam tidak menjawab. Semua peluru telah mengenai dadanya. Jantungnya, aliran darahnya seperti mau berhenti. Bak peluru dan selongsongan senjata sama-sama tertusuk ke semua bagian tubuhnya. Sakit. Moderator, tiba-tiba menskorsing sidang. “Saatnya ishoma!” tegasnya.

Setelah ishoma, diskusi kembali dilanjutkan. Moderator segera mengambil alih forum. Mencabut skorsing sidang. “Baiklah, kita akan segera masuk pada tanggapan para pembicara kita. Namun, sebelumnya, kami dari pelaksana acara, juga Pak Rustam, mohon maaf sebesar-besarnya, karena disela ishoma tadi, beliau tiba-tiba mendapat telepon dari Rektor. Katanya, ia harus segera ada di Makassar untuk menghadiri rapat khusus di  UNM.”

Demikian diskusi seminar berlanjut tanpa pak Rustam. Ia telah pulang dengan segala rasa sakit yang tidak dapat diatasinya lagi. Pulang dengan keperihan yang tak tertahankan.

Pak Rustam, seusai rapat bersama senat universitas di Rektorat Universitas Negeri Malulah (UNM), secara tiba-tiba bertemu Rusmin, Kepala Satpam Fakultas Tetangga (FT). Pak Rustam mencoba mengorek kronologi kejadian yang baru saja menghanguskan Sanggar Seni Fakultas Sebelah (FS) tempat dirinya mengajar. Pak Rustam, lalu, mengajak Rusmin mengambil tempat yang agak teduh di sekitaran halaman Rektorat. Di bawah pohon beringin, sebelah utara jalan yang menghubungkan antara rektorat dan Fakultas Pinggiran (FP), Rusmin mulai merunutkan kronologi kejadian yang melanda FS.

“Begini ceritanya, Pak.” Rusmin menarik napas panjang, sesekali mematuk kreteknya. Waktu itu hari kamis, 14 November. Kejadian bermula saat seorang dosen mata kuliah umum, yang kebetulan juga adalah dosen tetap di salah satu jurusan di FS, memindahkan kelasnya ke gedung HD. Kalau tidak salah nama dosen itu adalah bapak Danjua. Bapak itu memang agak melo. Kadang-kadang merasa takut kena matahari. Hari itu memang matahari sangat panas, Pak. Itulah mungkin,  sang dosen  agak malas untuk berjalan ke sebelah atau memutar mobilnya ke FT. Entahlah.  Di gedung HD mahasiswa FT datang untuk menerima kuliah dari sang dosen. Singkat cerita, setelah perkuliahan usai, ketika mahasiswa FT berombongan keluar meninggalkan ruang  kelas, tepat di koridor gedung HD juga berkumpul beberapa orang mahasiswa FS yang sedang ngobrol sambil ngopi. Pemicunya bermula di sini.

Rombongan mahasiswa FT yang memiliki penampilan berbeda dengan FS, menyita perhatian. Semua mata yang sedang menikmati obrolan sambil ngopi itu menudingkan matanya kepada mahasiswa FT. Gara-gara mata dan penampilan itulah, kata sebagian orang yang menyaksikannya, sekejap menyebabkan adu pukul dari kedua belah pihak. Dari pihak mata yang melihat dan dilihat atau dari pihak yang berpenampilan berbeda dan yang tak berbeda. Itu menjadi gara-gara, Pak” Pak Rustam tampak kebingungan mendengar penjelasan Rusmin. “Maksud, Pak Rusmin?” Tanyanya. “Maksud saya, kejadian itu sekilas terjadi, Pak.” “Oh..” Pak Rustam mengangguk. Anggukannya menunjukkan kepada Rusmin untuk segera melanjutkan ceritanya.

Rusmin mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Ia mengambil kretek andalannya, lalu membakarnya lagi. Sangat mendalam cara ia menyetubuhi rokoknya. Sangat akrab. Asapnya telah menyatu dengan Rusmin. Ia menghisap rokoknya begitu syahdu. Nikotinnya tampak mengembalikan data-data, ingatannya, untuk disampaikan kepada Pak Rustam.

“Tak lama setelah kegaduhan yang terjadi itu, serombongan mahasiswa FT, entah yang terlibat pertikaian sebelumnya atau bukan, dari lapangan basket melakukan pelemparan ke gedung HD. Mereka melontarkan kata-kata kasar, provokatif, memancing reaksi mahasiswa FS. Kejadian itu tidak berlangsung lama. Berkat kejelihan pimpinan masing-masing fakultas, kemungkinan untuk terjadinya bentrokan besar, berhasil diredam. Nah, di sini ada yang menarik untuk digaris bawahi, Pak. ” Rusmin mengajak Pak Rustam untuk menganalisa kasus tersebut. “Waktu itu hadir Dekan FT, Inhus bin Mays. Saat itu, ia seperti memosisikan diri sebagai Panglima Perang, Pak. Ia mengeluarkan statemen yang, kalau disimak dan diteliti, sangat provokatif. Kalau pelaku pemukulan, barangkali menunjuk kepada peristiwa di koridor sebelumnya, tidak ditemukan dalam waktu tiga hari, saya akan meratakan FS dengan tanah.” “Wah, parah. Ini sangat parah. Ini bukan omongan Doktor, Pak.” Pak Rustam tampak mendidih merespon kalimat terakhir yang dipetik dari Inhus bin Mays tadi.

“Tolong dilanjutkan ceritanya Pak!” Kali ini, Pak Rustam mendesak. Ia meminta sebatang kretek milik Rusmin. Padahal ia bukanlah perokok aktif.  Dibakarnya tergesa-gesa kretek itu. Ia sangat terganggu dengan pernyataan terakhir tadi.

“Senin, 18  november.  Pukul 14. 30  ratusan mahasiswa FT melakukan penyerangan ke FS. Mereka melempari gedung: HD, Dekanat, dan memecahkan kaca-kaca ruangan kelas lainnya. Waktu itu FS sudah tidak ramai. Pasalnya, di sore hari perkuliahan sudah pada rampung. Hanya beberapa kelas yang masih menjalankan perkuliahan. Memang masih tampak beberapa mahasiswa berkeliaran di pelataran kampus yang sedang sibuk mengurus sesuatu. Mahasiswa FT merangsek masuk ke FS. Mereka seperti berpesta. Letupan-letupan kaca pecah dan dentuman lainnya, menyusun keheboan tersendiri. Sorak sorai di mana-mana. Ada amarah dan kemenangan – berganti satu sama lain. Serangan sore itu, serasa menyisakan kemerdekaan tersendiri. Setelah beberapa menit melakukan pengrusakan di FS, gerombolan itu kemudian merangsek ke Fakultas Atas (FA). Mereka sangat paham betul bahwa FA masih saudara kandung dengan FS. Kali ini mereka mendapatkan perlawanan sengit, meskipun mahasiswa FA terpukul mundur.

Situasi pun mereda ketika sekelompok yang berseragam hitam, berbadan robot, dilengkapi senjata api, tiba di TKP.  Akibat penyerbuan mahasiswa FT itulah menghanguskan beberapa buah sepeda motor dan sekretariat (dan segala isinya) sanggar seni mahasiswa FS.”  Mendengar kronologi yang dikisahkan Rusmin membuat Pak Rustam termangu. Ia berada dalam hening. Ia memikirkan teman diskusinya yang saat ini dalam duka. Betapa terpukulnya ia mendengar bahwa sanggar seni itu juga hangus dijilat si jago merah. Beberapa bentar waktu, Rusmin lalu melirik tangan kirinya. Jarum jam di tangannya itu menggerakkannya untuk segera berpamitan kepada Pak Rustam. “Maaf, Pak.” Ia menggaruk-garuk kepalanya. “Saya harus kembali ke Pos.” “Okelah, Pak. Makasih, Pak Rusmin, atas data-datanya.” Rusmin pun beranjak pergi. Pak Rustam masih saja belum mengubah posisi duduknya. Ia menatap ke Rektorat. Tajam. Matanya, meninggalkan teka-teki yang rumit.

***

Sore ini, Pak Rustam menyempatkan diri melihat langsung sanggar. Selama ini memang, setiap sore, sehabis mengajar, Pak Rustam telah nongkrong di sanggar. Sesibuk apa pun ia akan selalu menyempatkan diri menyapa orang-orang yang selalu gamang dengan – apakah itu kegiatan pembacaan puisi, teater, tari, juga diskusi sastra – kesenian.

Akan tetapi, sore ini tampak berbeda dari sore-sore lainnya. Pak Rustam, datang dengan wajah murung. Sedih. Ia telah melihat apa yang dijelaskan Rusmin sebelumnya, juga telah mendapatkan jawaban atas gugatan peserta seminar, kemarin, terhadap dirinya hari ini. Pak Rustam sangat terpukul. Ia hanya mendapati sisa peristiwa yang baru saja terjadi di kampusnya,  UNM.

Kali ini, ia tidak melihat lagi kerumunan teman diskusinya, para Pekerja Seni Kampus (PSK) di sanggar itu.  Ia berusaha mencari orang-orang itu, tapi masih tak tampak olehnya.

Dilihatnya sanggar itu telah menjadi kuburan. Selain cerita dari Rusmin, memang semua media pengabar mengatakan bahwa telah dibakar oleh kelompok mahasiswa FT. Fakultas yang selama ini, belajar mengenai manusia lewat tehne, menciptkan mesin kebudayaan; fashion, bangunan, dan perencanaan lainnya. Mereka juga seniman. Lalu, mengapa mereka sampai membakar bangunan. Tidakkah ini adalah hasil seni, hasil kebudayaan manusia juga. Barangkali mereka menganggap bangunanannya salah desain, salah ukuran, atau mengganggu penglihatan. Entahlah…

Pak Rustam duduk sejenak di atas sebuah motor, di tempat parkiran.  Sembari mencari para PSK yang selama ini menjadi teman diskusinya, ia sesekali merenung dan menatap ke arah bangunan yang tinggal arang itu. Di mana gerangan orang-orang itu mengalihkan aktivitasnya? Tanyanya dalam hati.

Di parkiran itu, Pak Rustam menudingkan matanya ke Pos Satpam. Ia melihat satu kompi manusia berpakaian hitam, bersenjata lengkap, sedang memainkan alat musik jimbe milik para PSK di sanggar. Orang-orang berpakaian hitam itu telah menduduki Pos Satpam kampus, juga telah menduduki tempat parkir bagian selatan sebagai tempat santai, sambil memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang. Mereka menyerupai sipir penjara yang mengawasi tahanan jagal di Rutan. Lagak panoptiknya mengganggu para tahanan itu untuk bergerak sedemikian rupa. Ya, orang-orang yang berpakaian hitam bersenjata itu, juga selalu memperhatikan bokong-bokong mahasiswi berlenggak-lenggok setiap saat di depan posnya. Seketika matanya cerah, liurnya meleleh – yang sesekali ia patuk ala Patkai, lelaki yang telah mengalami kutukan menjadi babi – laiknya plastik ketemu bara.

 

Makassar, 16/02/2014

 

Penulis : Narayata

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
  • Puisi dan Biru

    Puisi dan Biru 1 Makassarcerdas.com – Kulitnya sawomatang. Matanya bulat bersih, ses…
  • Yang Sia-Sia

    Makassarcerdas.com – Aku ingin berkisah tentang cinta. Tenang saja ini bukan cerita …
Load More In Cerpen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…