Puisi dan Biru

1

Makassarcerdas.com – Kulitnya sawomatang. Matanya bulat bersih, sesekali berkacamata. Ia suka mengenakan jilbab sederhana, dan tentu saja dengan warna favoritnya. Biru dan sesekali mengagumi coklat. Aku tak tahu, pastinya, warna itu melekat fasih di dirinya. Ia seperti perjumpaan tak berantara – kulit lokal yang betul memahami fashionnya.  Ia selalu menyembunyikan kelembutannya lewat kacamata beningnya. Gagang dan kacanya itu memalang jalan yang sedang kususur, menggangguku merasakan kecantikannya, kelembutannya, juga merasai bulir resah, cemas yang ditancapkannya, tepatnya saat berpapasan dengan mataku.

Aku menamainya Biru. Ia baru saja pindah ke Jogja. Ia memutuskan tinggal di kompleks pelajar putri. Meskipun, sebenarnya, kepindahannya dari Makassar ke Jogja adalah  keputusan yang agak polemis, alias pertaruhan yang menggetarkan. Radiks. Salah langkah, bisa jadi, terplanting ulang di lubang yang sama. Itu katanya padaku di sebuah sore, di kafe mini, di segelas kopi dan coklat panas, di selai pisang bakar yang mengeram, mendengarkan loncatan kisah terngangah dari serabut-serabutnya, mengeluarkan seratnya. Aku mendengar kisah itu. Kalimat-kalimat itu, bukan mau kupakai sebagai simptom untuk mengeluarkannya dari resah, kubiarkan mengalir deras. Tanpa spasi kutatap matanya. Kubiarkan ia mengulangi, sesekali menegaskan kejengkelannya, kesenangannya.

Kubiarkan ia meluap. Aku merasakan kecantikannya sesekali menyeletup bersama amarah, kesenangan, juga diksi  nyaman yang berulang-ulang ia tambatkan. Aku senang melihat matanya. Lembut. Aku tahu kecantikannya lagi tersembunyi di sana. Aku tahu, ia sedang mengejar dan mau menemukan diksi itu kembali. Ia sedang kehilangan kenyamanan hidup. Ia pernah terperosok lama, dalam kenyamanan yang keliru.

Singkat. Itulah trauma dramatis, yang malam ini, dicurahkan Aan padaku. Perjumpaan traumatis. “Kenapa traumatis, An?” Tanyaku. Aan menarik napas dalam-dalam lalu menuding pada malam. Ia kesal pada malam. Ia selalu takut menghadapi malam. Malam yang sering mendesaknya mengingat perjumpaan singkatnya pada Biru – menyayat-nyayat kegagahannya pada kata-kata. “Setiap kali aku mau memejamkan  mataku, bayangannya tak mau lepas, brurr. Ia seperti imago pertamaku. Ingatanku seperti lalat yang selalu mau mencumbui, jejak, waktu-waktu singkatku dengannya – waktu yang tak terencana”. “Lantas, Birumu itu tahu bahwa kamu sedang mengalami gejolak pada malam?” Tanyaku lagi. “Entahlah! Aku memang agak merasa sepihak pada kalutku ini. Aku pernah memancing, sekali waktu, lewat pesan singkat. Aku sedang ingin mengantarnya menghapal angka-angka, memperkalikan dan membagikan kemungkinan bilangan yang dapat mempertemukan kemungkinan untuk bersamanya merasai gejolak di dalam batinku. Aku ragu, brurr!” “Wah, ini tragedi mengerikkan, brurr! Apakah kamu mau dikatai orang sebagai LAMBERTUS – lambat berterus terang? Ha..ha..sementara, omongan atau wacana apa saja, meskipun pahit kadang, kamu sikat begitu saja. Lalu jawabnya apa?” Aan sejenak diam, lalu mengalihkan pembicaraan ““Ini agak berbeda.” Aan, memotong. Ia mau meyakinkan padaku, bahwa kali ini, yang dirasakannya, tak lagi bisa diwakili oleh kalimat-kalimat yang bisa didendang mainkan. “Masalahku bukan pada diksi apa yang tepat untuknya, atau aku takut mengatakan cinta padanya, lalu ditolaknya – bukan itu. Masalahku ini, aku sedang jatuh cinta, tetapi kalau kukatakan, bisa-bisa, aku berhenti merasakan apa yang kualami saat ini”. Aku terhenyak lambat. Lambat untuk bisa memahami, memaknai keinginan kawanku. “Maumu apa, An?” Hatiku berbisik pelan. Aku menatap kawanku menyamping. Ia memang tampak lain kali ini. Sosok yang kupahami darinya seolah tersita dari bahasa (perjumpaan) singkatnya yang belum terjawab.

 

 

2

Malam semakin larut. Kami berjalan melepasi jarak dari anjungan satu ke anjungan lainnya. Losari telah mengantarai kawanku dengan Biru. Kami duduk di tepi pantai. Mencoba mengajak kawanku merasai ulang, menemukan ulang hidupnya, membangkitkan gairahnya lewat lafas-lafas dan jeda waktu yang telah lalu.  Angin laut, juga semakin lepas. Ia mulai mengayun-ngayunkan sayapnya, deras. Hembusannya semakin tak ramah. Demikian, pecahan ombak di karang-karang pantai, serasa mendesah. Mungkinkah juga ia sakit. Merayakan rasa sakitnya sendiri. Setiap waktu dihajar oleh ulah angin, membiarkan ombak pecah semena-mena. Ataukah, ia juga lagi trauma pada jejak air laut yang seenaknya lalu lalang. Pergi begitu saja tanpa pamit – tak sempat mengutarakan inginnya. Ya, angin sepertinya selalu berulah. Ia cemburu pada pantai, karang, juga manusia, yang dilanda asmara.

Kali ini aku mencoba menghibur Aan. Aku berdiri di atas penyangga yang bertuliskan Pantai Losari. Penyangga itu kujadikan panggung, lalu menghadap ke laut lepas. Aku bacakan dirinya sajak,  sajak kesenangannya. Aan sangat menyenangi sajak penyair besar Indonesia ini, Chairil Anwar. Kubaca sajak itu, berharap Pulau Samalona mendengarkan kisahnya malam ini.

Tak Sepadan/Aku kira:/Beginilah nanti jadinya/Kau kawin, beranak dan berbahagia/
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
.

Empat baris di atas kubaca pelan. Setiap kata aku tumpahkan, lembut, ke telinga Aan. Empat baris di atas kubaca sekali lagi. Kubaca sekeras mungkin, berharap kata-kata itu menahan ombak menuju pantai, berharap Pulau Samalona terbanjiri kata cinta, menghentikan Ahasveros di sana. Kubaca keras-keras lagi. Aku tak lagi memperhatikan Aan.

Dikutuk-sumpahi Eros/Aku merangkaki dinding buta/Tak satu jua pintu terbuka/Jadi baik juga kita pahami/Unggunan api ini/Karena kau tidak ‘kan apa-apa/Aku terpanggang tinggal rangka. Chairil Anwar , Februari 1943

Setelah kubacakan, sampai di bait terakhir, Aan telah bangkit, melompat ke atas panggung pentas kami malam ini.  Puisi. Puisi menghidupkan kawanku. Ia lalu melanjutkan ke sajak lainnya.

Sia-sia. Penghabisan kali itu kau dating/Membawaku kembang berkarang/Mawar merah dan melati putih/Darah dan Suci/Kau tebarkan depanku/Serta pandang yang memastikan: untukmu./Lalu kita sama termangu/Saling bertanya: apakah ini?/Cinta?/Kita berdua tak mengerti/Sehari kita bersama/Tak hampir-menghampiri/Ah! Hatiku yang tak mau member/Mampus kau dikoyak-koyak sepi. Chairil Anwar , Februari 1943

 Ya. Aku melihat Pulau Samalona hidup lagi. Lampu-lampu di seberang pulau yang sedari tadi mati, tiba-tiba, satu persatu, cahayanya berlarian, hidup. Aku menemukan kawanku. Aku menemukan Aan. Ini hidup. Ini gairah yang bisa dipakai kawanku untuk hidup lagi, untuk menciptakan kisah baru, sekembalinya dari Jogja – sekembalinya tanpa kata untuk Biru.

Aku mencintai puisi/Aku mencintai Biru/Biru itu puisi/Yang harus selalu memperbaharui hidupnya, di sana/Biru itu waktu/Yang harus memelihara pelitanya, agar tak dimangsa oleh kisah berulang/Biru/Jejakmu telah kurantai/Kusimak ulang/Kubuat puisi, supaya tak dimangsa rayap, supaya tak merayap/Biru bukanlah lupa/Tetapi, ia adalah palu untuk menempa kisah demi kisah/Jarum yang terus harus bisa  merenda kekalutan, mewarnai waktu, perjalanan/ Atas kekeliruan merenda masa lalu.

Itulah sajak terakhir. Sajak tak terencana ditasbihkan Aan kepada Losari, Salamalona, dan tentu saja pada Biru. Kami pun meninggalkan malam di Losari, menanggalkan kusut benang di jemari Aan. Malam ini kami telah mencuri jarum dan benang baru dari selat Makassar, dan menjahit malam yang selalu resah pada jarak…

Yogyakarta,  1  Oktober 2013

Penulis : Narayata

Comments

comments

Load More By MakassarCerdas
  • Universitas Negeri Malulah

    Makassarcerdas.com – Seminggu yang lalu, Pak Rustam berada di luar kota untuk membaw…
  • Yang Sia-Sia

    Makassarcerdas.com – Aku ingin berkisah tentang cinta. Tenang saja ini bukan cerita …
Load More In Cerpen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Iklan Layanan Masyarakat DPP FPBI -Jangan Buang Sampah ke Laut

Salam Bahari !!! Salam Bela Negara !!! Sampah Laut Semakin Menghawatirkan !!! Perilaku Bua…